liputan di Jungle Land seri 2

assalammualaikum,

setelah kemarin baca liputan sambil senang-senang, sekarang lanjut lagi yuk liputan live hehe dari Jungle Land. saya nggak akan bahas secara detil soal liputannya, tapi senang-senangnya aja yaa secara disana juga cuma wawancara aja sama karyawan bank dki dan dirutnya yang cukup ramah.

berhubung cukup lama nunggu pic dan oji, kita bertiga yang udah garing abis, nggak bisa ngapa-ngapain kecuali bengong ngeliatin karyawan dan keluarga yang datang dengan wajah-wajah semringah. ada yang kece-kece, banyak juga yang menggoda hati. tapi, yang belum ada sih yang bikin mata sampai kelilipan hehe saking kecenya. duh, jangan sampai juga ya karena nanti biar suami tercinta aja yang bikin mata ini kelilipan sampai pagi ^^

sekitar setengah sampai satu jam, akhirnya yang ditunggu datang. dan, kita pun akhirnya menukar kupon dengan tiket dan mulai masuk mengamati jungle land yang terlihat kecil tapi luas. pas kita masuk, sambutan dirut udah mulai yang membuat kita berdua, saya dan umi heren ketinggalan speech sang dirut yang hanya menyisakan yel-yel di ujung pidatonya haha..tapi ke kaver alhamdulillah karena umi berhasil lobi-lobi doi buat wawancara. di vip room lagi, ciyeee umi hereeen *uhuk

sambutan demi sambutan berlalu, ada potong kue juga karena istri salah satu direksi ultah, dan acara dilanjut nyanyi bareng yang menampilkan home band dari jungle land. suara vokalis cowoknya cukup ok, dan bikin nyaris semua karyawan yang duduk di sana gerak-gerak atau minimal lipsync in lagu yang mungkin nggak hafal liriknya.

nggak berapa lama, kita pun beraksi mencari mangsa buat diwawancara. saya dan mas boe memutuskan jalan lebih dulu krn umi msh hrs merekam ceremony acara smp selesai. berbekal suara musik yang bising, kami menemukan target demi target yang nggak keberatan dimintai testimoninya seputar acara family gathering. alhamdulillah, dari semua hanya satu yang nggak berhasil wawancara sampai selesai karena harus menyambut komisarisnya yang mau pulang. dan setelah semua narsum terkumpul, saya pun mengukuhkan diri untuk berpetualang, meski terpaksa dilakukan secara solo.

tapi, berhubung perut kosong, jadilah saya isi bensin dulu dengan nasi kotak yang ada di kupon. saya pun keliling cari tempat yang pas buat makan, dan ketemulah food court yang bersebelahan dengan toilet dan mushola. alhamdulillah, memudahkan untuk bolak balik kalau dekat begini, secara saya kan orangnya beseran 😀

selesai makan dan istirahat sebentar, saya langsung berjalan pelan mencari permainan yang bisa saya mainkan. dan pilihan pertama jatuh pada sebuah permainan yang berbentuk pesawat ulang alik yang setelah saya lihat cara mainnya membuat saya berpikir ulang untuk mengantri. selain karena antriannya sangat sangat panjang, saya juga merasa tidak cukup fit untuk dibolak balik dan dilempar seperti itu. tidak, terima kasih. mungkin lain kali jika ada kesempatan, begitu pikir saya sambil kabur dari tempat itu secepat yang bisa saya lakukan.

Gambar

ini wahana yang saya maksud di atas. selamat menikmatiiiii *sambil joging 😛

setelah berjalan dan menyusuri jungle land yang ternyata cukup luas, saya pun menemukan wahana yang menurut saya manusiawi. perut saya yang saat itu sedang tidak terlalu ramah, sepertinya bisa menerima keputusan saya untuk antri di wahana tersebut. ini dia penampakkan wahananya.

Gambar

last but not least, ini wahana yang saya naiki terakhir sebelum cabut karena dipanggil-panggil mas boe dan umi untuk segera pulaaang. aaarrgggggh!! jederrrrr!!!

alhamdulillah, liputan hari ini ditutup dengan mengucap hamdalah ^^

sampai berjumpa di sharing berikutnya, ukhti sholihat….

wassalammualaikum^^

Iklan

OSD di Muslimah Day 2014

assalammualaikum,

alhamdulillah, udah hari selasa lagi. ada yang belum mandi sesiang ini? hehe, sama, saya juga belum. karena kemarin lebih dulu sharing soal Jungle Land, which is masih ada sambungannya, sekarang mau sharing soal muslimah day yang diadain sama anak-anak Univ Bakrie di Kuningan sana.

bertajuk show modesty of muslimah through beautiful art, talkshow yang baru kali ini saya datangi mengundang OSD sebagai pembicara dengan Vina dari peduli jilbab. kalau Vina mungkin nggak familiar ya, secara saya juga baru ngeh ternyata peduli jilbab itu diorganisir dengan serius lho. dan Vina yang baru 23 th dan sudah menikah ini (uhuk) menjabat sebagai creative disana. kalau OSD kan siapa yang nggak tahu ya ukhti sholihat? sejak kemunculan perdananya di KCB thn 2008, sejak saat itu pula wajah OSD memborbadir layar kaca kita. alhamdulillah, akhirnya muncul juga sosok muslimah yang insyAlloh istiqomah dengan hijab syar’inya di program-program tv nasional kita. moga-moga nggak cuma tematik aja yah, tapi juga setiap hari agar suguhan dunia dan akhirat seimbang.

dengan berbekal registrasi sms yang sudah saya lakukan satu hari sebelumnya, minggu pagi pun saya berangkat dengan perasaan campur aduk. lebih khawatir pada lokasi sih, karena udah lama nggak lewat daerah kuningan, takut nyasar dan kemana-mana walaupun pada akhirnya, setelah mutar balik satu kali alhamdulillah sampai juga di univ Bakrie yang terletak persis sebelahan sama pasfes.

buat yang belum tahu muslimah day itu apa, ini merupakan salah satu seminar dari program festival basmala anak-anak univ Bakrie yang sepertinya diadakan setiap tahun. kalau tahun lalu htm dibanderol Rp 20ribu, tahun ini ada kenaikan Rp 15 ribu. setelah di cek ke panitia kenapa naik, mereka bilang karena pembicaranya semakin bagus. dan, memang terbukti, dengan OSD sebagai speaker, para peserta yang alhamdulillah cantik-cantik semua terlihat semangat dan ceria menyimak tuturan demi tuturan yang terucap dari OSD yang masyAlloh cantiknya.

Gambar

jujur, ini bukan kali pertama lihat artis live, tapi lihat OSD yang tampil anggun dengan hijab dan kerudung syar’inya sungguh bikin hati ini iri, teriris sekaligus haru dan sedih. nano-nano deh pokoknya sambil terus berharap dan berdoa agar Alloh mengizinkan saya untuk bisa hijrah seperti OSD aamiin allohumma aamiin…

pikiran yang melayang jauh itu pun perlahan teralih pada pembukaan yang dimulai oleh dua orang mc yang juga nggak kalah cantiknya dari narsum. sebelum acara dimulai, ada pembacaan ayat-ayat suci oleh ukhti rizqo yang subhanalloh indahnya. lalu acaranya pun dimulai dengan sambutan-sambutan dan akhirnya seorang moderator memimpin talkshow bersama OSD. suasana seminar awalnya tegang, tapi nggak lama cair karena OSD pintar sekali membuat peserta tertawa dengan celotehan ringannya yang padat dan berisi. ternyata, OSD yang sering saya lihat diwawancara di tv sama dengan yang ada di hadapan saya saat ini. alhamdulillah, bahagianya sang suami bisa berdampingan dengan istri sholihah seperti beliau. semoga kita semua, muslimah dimana pun berada bisa mengambil segala sesuatu yang positif dari sosok bersahaja OSD dan terus mendoakan beliau istiqomah berdakwah di dunia yang beliau jalani saat ini ^^

karena temanya show modesty through beautiful art, OSD sharing seputar bagaimana jadi muslimah syari tapi gaul. emang bisa? insyAlloh bisa karena beliau udah mempraktekkannya selama ini. jadi, kalau ada yang mau tahu seperti apa sih syari yang gaul, silakan dilihat kembali sosok OSD yang prestasinya gemilang di tengah sorotan dunia perihal hijab besar yang dipandang negatif.

selain itu, OSD juga sharing soal perjuangannya menggunakan hijab dari usia 16 thn hingga saat ini. semuanya berproses, dan alhamdulillah, berkat cobaan yang diberikan Alloh melalui ibunya yang sakit, OSD menemukan jalan hidayah dan mengenal islam seutuhnya hingga akhirnya menjadi beliau yang sekarang ini 🙂

air mata tak terasa udah di pelupuk, tapi nggak jadi tumpah karena OSD pintar menyetel suasana hati peserta dengan lawakannya yang segar dan jujur. alhamdulillah, hari itu bertambah lagi ilmu diri yang miskin ilmu ini. semoga Alloh menyaksikan bahwa setiap muslimah yang hadir saat itu ingin memperoleh manfaat dari sharing yang diberikan oleh para pembicara. semoga Alloh memberkahinya dan menguatkan hati kita untuk terus istiqomah di jalan-Nya yang tidak mudah. aamiin allohumma aamiin…

 

liputan sambil senang-senang, kenapa nggak? :)

assalammualaikum,

alhamdulillah, udah senin lagi…nggak terasa ya senin minggu ini udah tanggal 12 mei aja. kalau gajian sih, masih lama, masih 2 mingguan lagi kalau kata umi heren. siapa sih umi heren itu? nanti yah tak kasih lihat penampakkannya hehe. kalau sekarang diberi, nanti pada kabur lagi *piss mbaaak2

yang wiken kemarin liburan, gimana jalan-jalannya, semoga seru yaa…minggu kemarin sebenarnya pengin ikut kajian di Al Azhar, tapi ternyata harus ditunda 2 minggu ke depan karena ada tugas negara yang kudu dijalankan. ya, apalagi kalau bukan liputan (yeay!). kalau dulu sih waktu jaman liputan arteis hehe, liputan wiken jadi momok yang nyebelin banget. bikin gondok, keki, dan saudara-saudaranya deh…tapi kalau sekarang, alhamdulillah udah mulai bisa (sedikit dan masih terus belajar) ngatasin rasa nano-nano itu tadi.

nggak gampang lho karena akyu kan perempuan, yang notabene lebih ngutamain perasaan dibanding logika. meski ada juga sih perempuan yang berbasis logika dalam berpikir dan karena akyu nggak tahu jumlahnya, jadilah kita stop disana aja ya seputar perasaan dan logika.

kalau ada yang nanya liputan itu ngapain sih? kerja ya? kerja di hari libur? ih, ya ampun, kesian banget yaaa…hehe, mungkin ada yang nanya-nanya dan bilang kayak gitu. dan saya akan menjawab kerja di hari libur, kenapa nggak? toh kerja itu kan ibadah loh. malahan, setiap kegiatan yang kita lakukan itu adalah ibadah yang sepenuhnya kita tujukan untuk Alloh SWT semata. dan berhubung ini klien baru (ehem) yang cukup gimanaaa gitu, jadilah kita yang bertugas pada hari itu (minggu kemarin, tgl 11 mei) mengerahkan segenap tenaga, pikiran dan jiwa untuk menjalankan liputan sebaik mungkin.

dua hari sebelumnya udah dikabari bu qiqi (hihi pakai medok yo ngucapinnya), hari jumat kalau nggak salah, berarti benar, di sms kalau hari minggu akan ada liputan bank DKI yang berlokasi di Jungle Land, Sentul, Bogor. Bogor? Sentul? what? saya langsung mikir dong gimana kesananya, secara itu tempat entah seberapa jauhnya dari rumah saya yang ada di ujung jakarta timur. ok, sebelum pingsan, saya melanjutkan membaca isi sms berikutnya, yang ya tentu saja diberi tahu dengan siapa dan naik apa untuk mencapai lokasi *ngusep dada sambil ucap alhamdulillah 🙂

intinya, liputan minggu itu akan diliput oleh 4 orang, 2 reporter, 2 fotografer. tadinya saya pikir korlip kita bu nyiur dateng juga, eh nggak tahunya cuma umi heren ajah. selebihnya boe sama oji, fotografer yang namanya nggak asing tapi saya nggak tahu orangnya bentuknya kayak apa.

karena mobil start dari kantor, jadilah saya harus ke kantor. dan itu acara, HUT bank DKI akan dimulai jam 08.30, berarti kita harus sampai sana minimal setengah jam sebelum acara dimulai. jadilah saya minggu pagi buta, tapi tak sebuta cintaku padamu (halah), setelah ngucek-ngucek mata, baju dan piring kotor (eh) bergegas mempersiapkan peralatan perang yang akan dibawa. tape recorder yang alhamdulillah baterainya udah diganti beberapa hari yang lalu, charger, pulpen, notes yang niatnya pengin bawa yang di kantor malah nggak kebawa juga karena buru-buru turun :(, payung, minum, roti buat sarapan yang juga nggak dimakan sampai pulang, malah dimakan di jalan menuju kantor sama boe hehe, dan tentu saja, uang segepok hehe aamiin…

duh, rempong amat sih bawaannya? ada yang nanya gitu nggak kira-kira? kalau reporter tivi mungkin lebih ribet lagi kali ye, secara akyu kan cuma penulis media internal, jadi kayaknya sih cukup simpel. setelah semua terbawa dengan aman di dalam ransel kesayangan yang ngikut saya kemana pun berada, termasuk dinas luar kota (ciyeee), saya pun bergegas mandi dan dandan. berhubung lagi nggak salat, jadi pas udah rapih sempat googling bentar soal lokasi yang akan kita liput hari itu.

cukup shock juga sih, karena tadinya saya pikir jungle land itu semacam nama makanan, eh, tempat rekreasi air seperti waterboom dll, tapi ternyata saya salah sodara-sodara. dari namanya aja seharusnya saya udah bisa nebak, hutan-hutan gitu, kan? jadi nggak mungkin dong ada air-airnya? ya nggak sih? mungkin-mungkin aja sih, karena jungle itu ternyata tema yang mereka garap biar ear catching di telinga. dan cucok, saya pun tertarik untuk mencari informasinya berkat nama yang kece itu tadi.

kelar searching, karena waktu udah mepet banget, setengah tujuh lewat lima, saya pun memasukkan satu sachet choco delfi yang nggak sempat diseduh dirumah. saya pikir sarapan di kantor aja daripada membuat teman-teman yang lain menunggu terlalu lama. ok, ready, get set, and….go!!!! kayak mau balap aja ini. udah beres, celingak celinguk bentaran di rumah dan setelah positif nggak menemukan satu orang pun yang bisa mengantar saya ke stasiun terdekat, jadilah saya memutuskan naik motor sendiri. alhamdulillah, setelah sekian lama absen bawa motor, baik-baik aja dan selamat sampai kantor.

sepanjang perjalanan, nggak lupa untuk mensyukuri segala karunia yang Alloh berikan hingga detik ini. indah banget ya ternyata jakarta kalau sesepi ini…jalan di sabtu minggu itu menyenangkan, ternyata, karena langitnya putih bersih, udaranya nggak tercampur asap kotor kendaraan, dan pohon juga bertasbih dengan riang karena angin senantiasa menemaninya setiap saat dengan izin Alloh 🙂

setiap melewati kawasan, saya selalu flash back kejadian tahun lalu, dan bersyukur Alloh masih berkenan meminjamkan usia kepada saya. kawasan sepi, lampu merah sepi, jadilah pada saling mendahului meski belum hijau karena jalur yang lain kosong melompong jalanannya hehe. termasuk saya *piss

karena nggak macet dan masih pagi banget, akhirnya saya sampai kantor entah jam berapa. saya nggak merhatiin lagi pas sampai pintu depan kantor, dibukain pak satpam yang jaga, saya langsung ke atas karena kata bapak yang jaga dua orang udah sampai dan lagi sarapan di atas. wuussshhh, saya pun dengan cepat melesat ke dalam dan secepat kilat menaiki anak tangga dengan harapan mereka nggak marah karena saya (mungkin) terlambat.

buka pintu, bahagia lihat muka-muka penuh ngantuk dari mas boe dan umi heren hehe yang lagi lahap menyantap bubur ayam. masyAlloh..jadi laper. jadilah saya icip-icip bubur umi dan ke toilet sebentar terus nyeduh choco delfi yang akhirnya terpaksa dibawa serta ke dalam mobil karena boe takut telat. jalan yuk, cil. kata doi. saya? duh, baru juga nyeduh ini minuman e, bentar dulu yak dengan muka melas plus ngantuk. lalu saya juga berpikir, kenapa nggak diminum di jalan aja, daripada telat sampai sana? mas boe pun memberi isyarat ok dengan syarat nggak boleh berarakan di dalam mobil. alhamdulillah, meski pe er juga, dan endingnya tumpah-tumpah juga pas naik jembatan, saya pun akhirnya menghabiskan choco itu dengan perasaan bahagia.

di sepanjang perjalanan menuju jungle land, kami menghabiskan waktu dengan ngobrol ngalor ngidul. mulai dari ngomongin liputan yang kepagian kayak sekarang ini, sampai nyeritain orang, eh, nyeritain kisah-kisah lain yang nggak kalah serunya. berkat itu, boe jadi nggak ngantuk lagi, dan nggak kerasa, perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam kurang pun membawa kita sampai di sentul, bogor. lalu saya berkata,…

jungle land, akooh dataaaaaaanggggg!!!

huek

nggak gitu juga, sih, karena saking kelamaan nunggu umi siap-siap, pakai kaos kaki baru, yang lama banget karena katanya kehalangan perutnya (batuk-batuk) abis itu, dan perhatian, dari atas kepala sampai ujung kaki semuanya baru lhoooo kata umi promosi. ya udah sih, umi emang tajir abis. tiap liputan beli sepatu baru, tas baru, gede banget yak kayaknya proyek kita yang baru ini alhamdulillah…. *ngusep muka penuh khidmat

setelah umi selesai, kita bertiga pun melangkah dengan pasti menuju puncak, eh, jungle land dong yang memajang benda bulat besar di depan pintu masuk kedatangan. seperti nggak asing, tapi, well, karena baru bertiga, kita pun mutusin buat nunggu oji di dalam. tiket udah di tangan, tangan umi heren tepatnya, kita bertiga udah siap, kita pun langsung jalan sambil celingak celinguk keadaan sekitar yang udah ramai sama karyawan dan keluarga bank dki yang memerah.

iya, dresscode mereka di HUT yang ke 53 kali ini, family gatheringnya pakai baju merah-merah. dan mata saya tiba-tiba langsung segar karena dapat pemandangan yang segar-segar hehe…

buat yang belum ke jungle land, dan ini juga kali pertama saya kesana, di sepanjang perjalanan menuju pintu masuk ticketing, kita disuguhi tempat nongkrong, makan, dll di kanan kirinya. ada juga abang-abang yang udah stenbai menawarkan barang dagangannya. ayo kaka, dipilih kaka, yang murah yang murah, cang ci men, tarahu tarahu, lho… hehe. iya, heboh amat emang akang-akangnya, tapi berhubung kita nggak tertarik sama yang dijajain, jadilah kita lewat aja sambil senyum-senyum dan jalan sedikit menjauh dari akang-akang itu.

sampai di depan ticketing, kita disuguhin pemandangan sebuah perahu besar yang kata sebuah blog itu replika bahtera perahu nabi Nuh as. wallahu a’lam. gede juga sih, dan ada jerapah juga di sisi kirinya dengan lidah yang menjulur. di bawahnya ada beberapa pintu yang terdiri dari ruang vip, dan toilet.

sambil nunggu oji dan pic acara dadakan dari DKI, kita nuker kupon dengan tiket. dan ini nih penampakan tiket jungle land yang dibanderol Rp 200 ribu kalau wiken dan kurangin 50 pas hari biasa.

Gambartiket masuk jungle land yang nggak setebal kartu atm kitah 🙂

ok deh. sementara, itu dulu. nanti dilanjut lagi liputan dari jungle landnya yaa… terima kasih sudah mengikuti meisy, dan sampai jumpaaaaaa *sambil kiss bye

wassalammualaikum ^^

 

bulan penuh hikmah

assalammualaikum,

sudah masuk bulan april, ya..alhamdulillah…meski april ini diuji Alloh dengan gejala dbd (vonis awal dokter, meski setelah cek darah negatif), dokter kedua setelah saya cek darah masih bertanya apakah saya mau dirawat atau tidak? berhubung mama lagi repot ngurus ini dan itu, terlebih masuk bulan pemilu (beliau jg jd seksi repot aka panitia), jadilah mama memutuskan untuk merawat saya dari rumah.

dokter yg menyarankan untuk dirawat, setelah mendengar jawaban mama pun berkata dia lepas tangan kalau terjadi apa2 pada saya. wuih, ngeri ya..hahaha, bikin ngeri sih memang apa yg dibilang bu dokter, tapi, ya mau gimana lagi. saya rasa keputusan mama insyAlloh tepat setidaknya untuk saat ini.

mama pun kemudian menanyakan apa yg bisa dilakukan jika saya tidak dirawat dulu. dokter pun langsung memberikan hint makanan apa saja yg harus dan perlu saya konsumsi untuk menaikkan trombosit yg menjadi alasan kenapa saya harus dirawat karena jumlah trombosit saya cukup rendah. jika normal dimulai dari 150-400, nah trombosit saya saat diperiksa satu minggu yg lalu itu hanya 157. rendah banget, kan? iya, itu karena saya memang punya kebiasaan makan yg buruk.

saya sadar, sejak beberapa minggu terakhir pola makan saya bisa dibilang sangat buruk. bukan hanya tidak memerhatikan kadar gizi, saya bahkan sering hanya makan satu kali dalam sehari. gimana kadar trombosit mau naik kalau pola makannya seperti itu, ya? hahaha.. setelah pemeriksaan kemarin pun, saya sadar atau seakan tertampar untuk menjalani pola makan yg lebih sehat dan teratur.

karena yg penting itu bukan berapa banyak yg kita makan, tapi seberapa manfaat makan makanan yg masuk ke dalam tubuh kita nila kadar gizinya. dokter pun bilang saya harus konsumsi jambu merah, boleh di jus dan ditambah gula (kalau bisa jangan dikasih es) dan rutin konsumsi sari kurma. tapi, hingga hari ini, mama belum sempat lagi membelikan sari kurma atau madu kurma karena kemarin waktu dibeli di apotik sedang kosong stoknya.

sebagai ganti, mama juga membelikan saya susu beruang sebanyak 10 kaleng. alhamdulillah, setelah kurang lebih satu minggu, kondisi saya saat ini berangsur-angsur pulih. InsyAlloh senin besok sudah bisa masuk kerja seperti biasa.

jumat kemarin sebenarnya sudah masuk, hanya tidak sampai jam 5 karena saya merasa tidak kuat berada lama-lama di sana. paling tidak, dalam beberapa jam saya harus berbaring karena kepala masih pusing. kan gak mungkin saya tiduran terus di kantor, jadi untuk mensiasatinya, saya duduk dengan posisi agak santai biar kepala dan badan tidak tegang. beruntung saat itu laptop kantor yg biasa saya pakai sedang dipakai adi yg gak dateng ke kantor hari itu. jadilah di kantor saya hanya main hp, ngobrol sebentar, makan siang, untuk kemudian pulang jam tiga kurang. hehehe..mbak dewi sampai bilang kalau belum sehat betul mending jangan masuk dulu. saya pun menjawab, lumayan kalau satu hari buat gajian besok. dia pun hanya tersenyum dan saya pun pamit sama yg lain untuk pulang lebih dulu.

alhamdulillah, di jalan meski harus pelan2, sampai stasiun juga. ternyata, jam segitu keadaan stasiun udah ramai lho. gak nyangka, karena hampir setengah dari jumlah kalau biasa pulang ngantor. alamat gak dapat tempat duduk deh kalau begini hahaha…yg cukup bikin keki sih seperti biasa, lama nunggu datengnya kereta yg ngaret, molor sampai setengah jam. alhasil, sampai manggarai jam 4 juga, beda satu jam dari waktu pulang ngantor biasa hahahaha…

ya disyukuri saja. alhamdulillah gak lama sampai manggarai, kereta bekasi datang. yg mau lanjut ke bekasi pun langsung nyerbu ke jalur 4. sementara saya, yg perutnya udah melilit waktu dari kereta, bukan nyerbu kereta yg baru datang tapi langsung menuju toilet yg ada di ujung sana, dekat mushola. hehe, apalagi kalau bukan untuk setor tunai. alhamdulillah lagi gak salat, jadi setelah dirasa cukup BAB yg agak sedikit berlebih cairannya, saya pun keluar dan mendengar pengumuman bahwa kereta bekasi udah dekat.

rencana semula pengin beli roti dan susu coklat terpaksa dibatalkan karena gak lama kereta datang kembali dengan kondisi yg cukup penuh tapi alhamdulillah bisa masuk. kalau perjalanan di keretanya sih gak usah ditanyalah, ya. hehe…udah pada mahfum pasti.

niat masuk dadakan alhamdulillah berjalan lancar meski gak sampai full. moga bulan ini jadi bulan penuh hikmah dan ada ibroh yg bisa dipetik sebagai pelajaran ke depan, insyAlloh…

jangan lupa, sahabat jaga kesehatannya, ya…jangan sampai kita terlena dengan kesehatan dan lupa untuk mensyukurinya dengan menjaga pola makan dan pola hidup sehat. insyAlloh… ^^

 

 

gegara cilok

hari apa ini? oh, sudah masuk Desember, ya. pertengahan bulan, malah. dan, apa yang sudah kulakukan? mungkin tidak ada. entahlah. begitu banyak hal yang membuat saya makin cepat bosan. bahkan sebelum melakukannya. hanya dengan membayangkannya saja, percayakah kau, bahwa kulitku sudah bergidik dibuatnya. oh, saya tahu, mungkin terlalu berlebihan. dan, sungguh, saya tidak ingin memaksa siapa pun percaya akan hal ini. karena, saya sendiri pun kadang, masih sulit untuk memercayainya. memercayai diri saya sendiri. ya. terdengar familiar, kah? *tarik napas

hari ini kamis, kemarin rabu. dan kemarin, saya memutuskan tidak masuk kantor karena sejak malam sebelumnya, berarti itu rabu malam, perut saya serasa dililit ular yang panjangnya sepajang kenangan tentang kamu, dan aku. sepanjang kenangan kita yang tak berkesudahan. halah. sebenarnya ini bukan kali pertama saya mengalami perut yang melilit, er, sakit, mulas dan nggak enak seperti ini, karena seperti yang kalian tahu, perempuan lebih punya kans untuk mengalami hal ini lebih sering ketimbang kalian kaum pria.

nggak percaya? u better believe this one thing hehe. aku bukan expert di bidang ini, sih, bukan, tapi aku punya cukup pengalaman sampai aku bisa mengatakan hal ini 🙂 but, the decision is all in your hands, guys. just believe in something you really believe.

kembali ke topik semula, jadi, rabu kemarin itu saya pulang agak malam karena ikut kereta yang masuk di jam kedua. kemarin itu kalau tidak salah saya ikut kereta Jakarta Kota. kenapa? oh, kalian harus tahu, kereta yang sekarang ini lebih sering saya tumpangi, jurusan Bekasi itu penuhnya sudah seperti penduduk satu kelurahan dimasukkan secara paksa ke dalamnya. kalau hanya nggak bisa bergerak aja sih, mungkin biasa, ya, nggak jarang, aku malah merasa mau pingsan dan menyerah untuk kemudian minta masinis yang entah ada di gerbong mana ha ha saking desperatenya sama keadaan kereta yang penuhnya ampun-ampunan itu.

oh, mau memikirkan mengambil hp untuk mengusir sedikit rasa penat (sedikit, katamu?)? lupakan saja! kalau kamu bisa mengambil telepon selularmu dalam keadaan kereta yang berdesak-desakkan seperti itu, kamu pastilah tipe orang yang kurang sensitif dan terlalu peduli pada diri sendiri tapi tidak peduli pada orang lain yang mungkin akan merasa terganggu dengan ulahmu itu.

jadi, balik lagi ke topik semula, selasa kemarin itu, seperti biasa aku pulang berjalan kaki dari depan pik. di depan pik itu, sebagai informasi bagi kalian yang belum tahu, akan sangat mudah menemukan berbagai macam makanan. sebut saja mulai dari siomay, mi ayam, buryam, dll. dan, pada saat mataku bersirobok dengan sebuah gerobak yang bertuliskan cilok, oh, aku jadi ingat keponakanku yang jika sudah makan ini bisa berbungkus-bungkus jumlahnya. dan itu hanya terjadi di kampung ayahnya, karena memang kesempatan itu hanya datang pada saat itu.

karena keingatan dengan ponakanku yang tampan dan cerdas itulah, disamping saya juga ingin merasakan seperti apa sih rasa makanan berbahan dasar tepung itu, saya pun akhirnya menyeberang jalan dan berhenti untuk memesan satu porsi, ah, tidak, saya bilang pada abangnya untuk membuatkan saya 3ribu saja. dan abangnya pun dengan sigap memasukkan makanan berbentuk bulat cukup besar itu ke dalam plastik disertai dengan sambal kacang, kecap, dan saos yang saya minta sedang saja. tadinya sih, saya ingin membagi ponakan saya yang gemar sekali dengan cilok itu, tapi, begitu sampai di rumah, kok ya saya agak tidak percaya kalau cilok ini cukup baik untuk dimakan abang (ponakan saya itu) karena, well, satu yang jual abang2 yang mukanya terlihat bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan cilok yang banyak dan meraup keuntungan yang besar dengan modal yang sedikit.

aku bergidik saat skenario itu melintas di kepala dan akhirnya memutuskan untuk memakan cilok itu sendiri diam-diam di dalam kamar mama, yang sekarang juga menjadi kamarku. dan, benar ternyata keputsan saya itu, karena malam hari hingga keesokan harinya perut saya moncor alang kepalang. oh, jackpot yang luar biasa keren sekali saya dapatkan di saat-saat seperti sekarang ini.

nasi sudah menjadi bubur, berbekal hasil cilok semalam, saya jadi satu-satunya orang yang rajin bolak balik ke toilet untuk buang-buang air :”( mama nggak harus tahu soal ini, jadi, saya berdoa agar bolak balik saya ke toilet itu tidak diketahui orang rumah agar mereka tidak bertanya-tanya apa yang terjadi pada saya hari itu.

berhubung saya terlalu banyak mengeluarkan cairan pagi itu, saya pun akhirnya memutuskan untuk absen ngantor karena nggak kuat kalau harus melakukan itu di kantor. kalian tahu, beser terlalu sering saja sudah cukup membuat saya kerepotan karena hal ini, mungkin membuat beberapa teman di kantor sebal karena lama menunggu saya keluar dari toilet.

jangan tanya kenapa. kalau kalian memang ingin tahu, mungkin, dengan mencoba memahami bahwa setiap orang punya kepentingan yang berbeda-beda di dalam toilet, mungkin kalian akan berpikir kembali untuk memikirkan hal yang tidak-tidak tentang orang lain (yang berada sangat lama di dalam toilet).

selebihnya, saya bersyukur pada Alloh karena telah memberikan saya hari yang menyenangkan untuk dijalankan setiap harinya 🙂

Cerpen

Dimuat di Majalah Esquire Edisi November 2013

Pulanglah, Fai

Aku tidak hidup untuk mati. Pun, untuk mati aku tak tahu bagaimana caranya. Tuhan, mengapa hidup ini rumit sekali. Tunggu, apa yang kaubilang? Tuhan? Sial. Masih percayakah kau kepada Tuhan setelah sekian lama kau berpaling pada-Nya dan hidup dalam ruangmu sendiri?

***

Hari apa ini? Jumat, atau Sabtukah? Sial. Kepalaku sakit sekali. Mereka berdentum-dentum nyerinya, membuat perutku linu selinunya.

“Hei, kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?”

Suara itu. Aku mendongak dari balik tanganku yang menelungkup di atas meja kerjaku yang poranda.

“Tidak, tentu tidak. Mengapa kau masih di sini?” Tanyaku seperti orang linglung yang tersesat di pinggir jalan.

“Oh, Mira, ini hari Jumat. Jumat pagi. Kita baru saja selesai deadline kemarin malam. Sepertinya kamu terlalu banyak minum, Mir. Beristirahatlah.”

Perempuan yang menyuruhku beristirahat itu, Dinta, kemudian mengeloyor keluar ruangan setelah memastikan keadaanku dirasanya tidak begitu parah.

Masih segar di ingatanku beberapa waktu yang lalu, Dinta yang memang cerewet dan suka kelewat pengin tahu itu penasaran kenapa aku selalu saja minum tiap menghadapi deadline. Aku tertawa, tak mengira bahwa Dinta pada akhirnya harus melontarkan pertanyaan yang mungkin sudah disimpannya sejak mengenalku dua tahun yang lalu.

“Apa kau selalu begini, Mir?”

“Begini, begini apa maksudmu?” Tanyaku dengan kedua alis terangkat ke atas.

“Well, kau selalu minum dan terlihat sangat bebas dalam bergaul. Apa kau sudah seperti ini sejak dulu. Sejak di kantormu yang sebelumnya mungkin?”

Tawaku meledak. Lucu sekali pertanyaan anak ini.

“Oh, Dinta. Kalau pun iya, kurasa itu bukan urusanmu, sayang.”

Kulihat Dinta mengangguk sambil mengedikkan bahunya yang tinggi.

“Katakan padaku, apa kau, berhubungan dengan mereka sekaligus?

“He?” sahutku tak percaya dengan pendengaranku sendiri.

“Ayolah. Kau jangan pura-pura bodoh, Mir. Kau tahu betul apa yang kubicarakan.”

Aku menggumam. “Jadi, kau ingin tahu apa aku meniduri mereka semua dalam satu ranjang? Begitukah?”

Dinta bergidik. Kulihat bulu kuduknya meremang yang kontan disambut oleh gerakan tubuhnya yang mendekat padaku.

***

Matahari sudah tenggelam. Sepertinya tidak ada yang harus kukerjakan lagi karena deadline telah selesai, dan hei, ini Jumat malam. Kurasa, ini sudah waktunya untuk melepaskan sedikit kepenatan yang mendera sejak seminggu yang lalu.

Sebuah panggilan telepon mengagetkanku yang sedang bersiap-siap beranjak dari ruanganku. Di layarnya tertulis: JFF2

“Halo. Dengan Mira di sini, ada yang bisa dibantu?”

“Halo, Mira, sayang. Apa kamu sudah siap pulang?”

“Pulang?”

“Ya. aku sudah menunggu di depan kantormu. Kita bertemu di bawah?”

“Tentu.” Klik. Aku mematikan telepon dan bergegas menuju lift dan menemui JFF2 yang kelihatannya sudah tidak sabar menantiku.

“Hei, Mir. Kamu terlihat cantik sekali hari ini.” Cup. Sebuah kecupan penuh gairah mampir di pipiku saat aku menghampirinya di ruang tunggu di lantai 1.

“Hei, thanks. Tumben kamu ke sini, Bar. Cindy?” Tanyaku ingin tahu. Ini memang bukan kali yang pertama Bara menjemput dan mengajakku keluar. Biasanya, itu dilakukannya saat hubungannya dengan Cindy sedang tidak begitu harmonis.

“Aku sudah putus dengannya, Mir. Seminggu yang lalu.” sahutnya santai.

Aku terhenyak. Putus? Bukankah mereka sudah merencanakan akan menikah tahun ini? ya Tuhan…

“Putus? Are you serious, Bar? Bagaimana dengan rencana, pernikahan kalian?”

Bara terkekeh sambil tetap menaruh satu tangannya di pinggangku. “Nanti kuceritakan, bagaimana kalau sekarang kita jalan? ada ide mau kemana, cantik?”

Ah, Bara. Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Kau tahu aku paling tidak tahan tiap kali mendengar panggilan itu kauobral pada setiap wanita yang kautemui.

“Your the master, tonight, Bar. Decide it.” Sahutku sambil menyejajari langkahnya yang besar. Suara heelsku menggema di ruang tunggu yang sudah sepi dari manusia.   

Malam itu, menjadi malam yang panjang dan panas untukku dan Bara yang, well, tidak bisa kukatakan patah hati karena aku tidak menemukan secercah rasa sedih pun atas putusnya hubungan satu tahunnya bersama Cindy, adik kelasnya di SMA dulu. Alih-alih sedih, Bara malah merasa menyesal jika jadi menikahi perempuan yang dikatakan baik-baik seperti Cindy.

“Aku paling tidak tahan dengan perempuan seperti Cindy, Mir. Itu saja.”

“Apa kaubilang, Bar? Kau memacarinya satu tahun ini. Dan sekarang baru bilang kau tidak tahan bersamanya? naif sekali kau.” aku mendengus. Antara sebal dan tidak percaya.  

“Ya. kurasa kau benar, Mir. Aku memang naif. Sebenarnya, aku bukan tidak mencoba untuk membuat hubungan ini berhasil, tapi, aku benar-benar tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, Mir, kalau aku, tidak lagi memiliki perasaan yang sama ketika aku pertama kali melihat Cindy.”

Ya. Ternyata, Bara menyukaiku. Kami yang baru saja kenal di kafe Torey beberapa bulan belakangan , ternyata membuahkan benih-benih cinta pada diri Bara. Tak kusangka, perkenalanku yang random dengan pria dandy seperti Bara  membuat retak hubungan yang telah dijalinnya cukup serius. Tapi itu bukan salahku. Aku tahu, aku memang menanggapi Bara seperti aku melayani Dika, Bayu dan yang lainnya. Tapi, aku tidak pernah mengatakan serius berhubungan dengan mereka.

Dan saat nama-nama pria itu melintasi benakku, sesosok pria bertubuh kurus dan tinggi dengan wajah kasar dan berambut sebahu berdiri persis di luar kafe Torey. Pria itu menatapku beberapa detik lalu menghambur pergi dengan menekan gas motor sekencang-kencangnya.

***   

Faisal. Momok itu bernama Faisal.

Pemilik sorot mata elang yang menatapku tajam di luar kafe Torey kemarin. Napasku berhenti tiap kali memikirkan nama itu, dan, oh Tuhan, darahku berdesir saat wajah itu mampir tanpa pernah kuminta. Aku tidak boleh melakukannya, membayangkannya, apalagi memfantasikannya dalam mimpi-mimpiku. Tapi, dia selalu hadir seperti hantu yang tidak pernah minta izin ketika datang. Dan aku, tidak pernah keberatan saat bibir tipisnya menggumamkan namaku dengan lembut di telinga.

“Apa kau berhubungan dengannya?” Tanya Fai saat kami bertemu keesokan harinya.

“Dengan siapa maksudmu?”

“Ah, dengan siapa? Begitu banyakkah pria yang kautiduri saat ini, Mir sampai-sampai tidak ada satu pun yang bisa kauingat saat kutanya?”

Plak. Sebuah tamparan keras kukirim ke pipi pria brengsek yang berdiri begitu dekat di hadapanku saat ini.

“Hati-hati kalau bicara, Fai. Aku tersinggung dengan ucapanmu barusan.” Kataku dengan bunyi gigi yang bergemeletuk.

“Kau, tersinggung? Maafkan aku, kalau begitu. Aku, kau tahu, aku tidak pernah bermaksud untuk menyinggungmu, Mir. Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya.”  

“Cih. itu bukan urusanmu, Fai. Kau tahu benar tentang hal itu.” Aku melengos. 

Pria di depanku menunduk perlahan. Raut wajahnya sendu, dan mata elangnya langsung redup begitu kata-kata itu berhamburan begitu saja dari mulutku. Ah, apakah aku telah menyakitinya? Bodoh sekali aku ini. Tapi, aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Bila bersama pria lain, aku tidak keberatan menghabiskan semalam atau dua, tapi tidak dengan Fai. Aku tidak berani melakukannya. Berdua saja dengannya seperti saat ini, di kamar kos-nya sudah membuat dadaku bergemuruh.

“Aku hanya ingin tahu, Mir. Itu saja.” ucap Fai lirih kemudian. Memecah pikiranku yang berkabut dan tak jelas kemana arahnya.

Aku mendesah panjang. Menjawab dengan frustrasi.

“Kau, dengan segala keingintahuanmu itu, Fai. Kau tahu, itu tidak berguna. Kau tidak seharusnya memiliki rasa penasaran seperti itu lagi untukku. Kau tahu itu, kan Fai?” Tanyaku lirih.

Bulir air mulai mengembang di sudut mataku. Kucoba untuk menahan napas walau akhirnya malah membuat dadaku naik turun dengan cepat. Aku tidak ingin menangis di hadapan pria brengsek ini, aku tidak ingin pertahanan yang telah kubangun selama ini runtuh dan goyah hanya karena mata elang yang kini berubah sayu itu.

“Aku harus pulang, Fai. Kurasa, dia akan sampai sebentar lagi, bukan?”  

Dadaku nyeri. Ada yang menekannya begitu kuat hingga membuatku limbung seketika.

sebuah elegi bernama, payung teduh

aku… ingin berdua denganmu

diantara daun… gugur

aku ingin berdua denganmu

tapi aku hanya melihat keresahanmu

buat yang familiar dengan kata-kata di atas, yep! kata-kata itu merupakan lirik lagu resah milik payung teduh yang so cool and calm. pertama dengar payung teduh sih dari tahun lalu, tapi cuma sebatas itu aja. nggak pengin cari tahu lebih lanjut seperti apa sih lagu atau musik band indie yang sekarang mulai meroket ini. dan sekarang, kemarin lebih tepatnya entah kenapa dan bagaimana mulanya, tangan gue bergerak mengetikkan nama payung teduh di yusup-well-you know who- karena melihat satu blog atau apa gitu yang isi komennya rata-rata muji band beranggotakan empat orang ini. oh, Tuhan, aku baru ingat kalau ternyata payung teduh ini hadir di komen-komen follower almarhum @toiletcafe yang meninggal dua hari yang lalu. aku nggak tahu dan nggak kenal nama itu, tapi, pas hari H itu, timeline penuh banget sama ucapan belasungkawa di tl doi. plus kakaknya yang lupa nama akunnya. jadi, @toiletcafe ini ngelempar topik atau pertanyaan lagu apa yang cocok buat nemanin tidur. dan, seperti yang bisa ditebak, kalau udah ngomongin lagu atau soal galau, pengikutnya pasti bejibun. salah satu komen disitu, seingat gue ada yang bilang lagu yang paling enak di dengar pas tidur itu lagu payung teduh yang judulnya apa gitu. gue nggak ngeh banget. yang pasti, komen itu bikin gue penasaran, karena dari sekian komen yang masuk, cuma payung teduh yang musiknya belum pernah gue dengar sama sekali. yang lain sih ada yang oke lagu-lagunya, tapi karena udah terlalu mainstream jadi ya nggak perlu lagi kali ya buat didengarin hehe. nah, berawal dari situlah, gue langsung buka yusup dan ngetik payung teduh-dan hasilnya-taraaaaaaaa….. banyak aja dong lagu-lagu mereka yang keluar. karena pusing, gue langsung buka lagu yang judulnya ada perempuan-perempuannya “untuk perempuan yang sedang dalam pelukan” itu judul lagu yang pertama kali aku dengar. dan you know what (no what what -eh-), aku langsung jatuh cintrong dong sama lagu itu. duh :/ penginnya sih langsung galau waktu dengar intro lagu itu dimainin, eh tapi kegalauan itu berubah jadi semacam kesenangan diam-diam karena pas sang vokalisnya bersuara, duuuuuuh, beneran deh aku berasa lagi dengarin penyanyi-penyanyi luar negeri macam michael buble, josh groban, jason mraz dll -tapi yang ini versi Indonesianya. asli indonesia, rek! *ajojing* dan yang amazed, vokalisnya ini anak UI yang nggak kelar dan gayanya itu lhoooooooo duh, kayak seniman banget. anak teater plus pemusik, biasa banget kali yah kalo di kampus-kampus mungkin banyak betebaran yang kayak gitu. tapi, berhubung di kampusku dulu nggak ada model yang begituan, jadi yah mohon dimaklumin yah kalo akuh agak-agak norak kali ini :”) dengan rambutnya yang ala-ala Gilang Baskara yang stand up comedian, tapi yang ini panjang dan diiket rapih ke belakang, penampilannya makin catchy dengan baju ala-ala seniman Jogja atau anak-anak seni IKJ *sotoy mode on* dan aku merinding loh waktu lihat video live-nya. sumpah demi apa, ada suara yang merdu dan meliuk-meliuknya seperti doi. setelah adithia sofyan, aku rasa om Is ini (nama vokalisnya Is sopo gitu) berhasil bikin aku klepek-klepek tiap dengar mereka nyanyi. kalo nggak salah, anak Sore produserin album mereka deh, pas dengar salah satu perform mereka live di sana. alhasil, ada anak Sore yang tiap mereka manggung nongol disana dan terlihat menikmati banget penampilan anak-anak Payung Teduh yang ternyata masih muda-muda ini (kelahiran 84-85 aja dong mereka :”) ). aku sih nggak pinter mereview tentang musik, tapi buat yang penasaran dan suka sama lagu-lagu slow ala 60-70’s, coba aja dengar satu dulu lagu mereka. habis itu,….. you can tell me apa pun itu komentar kalian tentang sebuah elegi bernama, Payung Teduh :))